Banyak uang tapi banyak hutang atau tidak punya hutang sedikit uang

Saya seorang praktisi dan pernah menjadi profesional di beberapa perusahaan multinasional, saat berbisnis, kesalahan fatal yang saya lakukan adalah tidak menerapkan Standard baku untuk memanage perusahaan (bisnis) yang selama puluhan tahun, saya praktekkan saat menjadi staff di perusahaan jepang, amerika, perancis, singapore, malaysia. Yang semuanya identik dengan Sistem, Monitoring, Controlling, Reduce Cost, Target dll.

Namun saat bisnis sendiri, semua saya hajar karena yang ada dibenak adalah pingin cepat dapat duit sebanyak-banyaknya dan jadi orang kaya, punya rumah/mobil mewah dan banyak. Dan hampir sebagian besar ternyata semua pengusaha (junior) mengalami hal yang sama dalam pikirannya, cepat kaya pokoknya hajar, bisnis jangan terlalu banyak mikir itu adalah yang saya anut. sampai akhirnya jeblok bangkrut.

pilih mana anda banyak uang tapi banyak hutangnya.

tidak punya hutang tapi sedikit uang (kekurangan)

Kalau mau jujur kebanyakan akan menjawab ya, enaknya Banyak Uang dan tidak punya hutang.

Jika tidak mengalami sendiri, mungkin tidak percaya. Bahwa menjadi pengusaha yang tidak memiliki ilmu bisnis, makin tahun makin capek dan numpuk hutang saja.

Anda mungkin terkejut jika menemukan artikel salah satu konglomerat indonesia mengatakan, dia harus bekerja keras agar bisa membayar hutang, Astaghfirullah..! lha bisnis kok makin sulit.

Bisnis itu bukan cari kerjaan mas, tapi cari duit tanpa stress dikejar-kejar hutang, itu nasehat yang pernah saya terima 3 tahun lalu. Alhamdulillah sekarang sudah merasakan bahwa bisnis itu dengan Ilmu baik ilmu Dunia dan juga Ilmu Agama , Agar tidak main hajar , halal-haram di Tabrak.

Dan saya belum pernah ketemu seorang pengusaha Muslim yang bisnisnya menggunakan Riba dan tidak memperdulikan halal-haram , yang Bisnisnya berkah dalam artian, sukses (bukan kelihatan sukses) punya duit cash banyak dan tenang hidupnya. Yang ada hanya keruwetan, stress dan hutang menumpuk saja.

Berbisnislah dengan Ilmu syar’i dan ilmu dunia