Cara mengatasi bisnis yang seret atau sakit

Assalamu a’laikum warohmatullah wabarokatuh. Berikut saya sharing hal-hal penting dan langkah2 strategis untuk mengubah perusahaan dari yang menuju kebangkrutan 

berubah menjadi sehat kuat dan surplus

di awali dengan Bismillahi Laa Haula WaLaaQuwwata illa Billah.

Artikel ini selain dari pengalaman membantu bisnis atau perusahaan yang sedang sakit, juga saya ambil dan olah dari berbagai sumber, untuk itu anda perlu melakukan pemetaan dan kajian analisa yang harus anda sesuaikan dengan kondisi bisnis atau perusahaan anda.

Langkah Reformasi Keuangan
sebagai prioritas utamanya. Tindakan ini dilakukan untuk mereformasi keuangan organisasi yang pada waktu itu bermasalah antara lain adalah dengan cara memangkas biaya
tanpa membuat organisasi ini menjadi kelaparan dan makin terpuruk, karena salah pemangkasan biaya ibarat ingin membuang lemak malah kena otot sehingga membuat tubuh
lumpuh.

Strategi memangkas biaya harus masuk ke tingkat yang realistis, yaitu memotong biaya yang tidak perlu dan menghindari pengeluaran-pengeluaran besar yang tidak
memberikan nilai tambah bagi perkembangan perusahaan di masa depan.
Barusan pagi ini saya konseling dengan seorang klien yang perusahaannya mengalami masalah keuangan yang sangat serius, maka upaya menganalisa struktur organisasi dan
SDM berikut performancenya adalah langkah2 strategis dan ketika dihitung bisa saving hingga 50 jutaa perbulan, tentu harus dikomunikasikan dengan data yang valid dan
pendekatan empati manusiawi tanpa berniat mendholimi.

Langkah Cut Off atau Pangkas yang sekarang
Banyak perusahaan yang bermasalah jatuh ke masa sulit karena melakukan akuisisi dan ekspansi yang tidak dipertimbangkan dengan matang. Jadi, selain melakukan
pemangkasan biaya, perusahaan yang sakit perlu memperbaiki kubu pertahanannya yang mulai rapuh. Jika perusahaan terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk mempertahankan
unit-unit bisnis yang sakit yang tidak memberikan kontribusi positif bagi perkembangan perusahaan secara keseluruhan (bahkan merongrong kondisi keuangan), maka langkah
selanjutnya adalah memangkas unit-unit bisnis yang tidak berprestasi tersebut sehingga bisa memfokuskan diri pada pengembangan unit-unit bisnis yang sehat.
Bahwa untuk fase survive di masa sulit, perusahaan harus menjadi yang terbaik di bidang bisnis yang ditekuni. Salah satu upaya yang bisa dilakukan,adalah fokus pada
bisnis inti dan divestasikan bisnis yang tidak berhubungan.

Langkah Membangun Kepercayaan
Hakekat dasar dari setiap jenis usaha adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan, tak ada yang akan mendukung bisnis tersebut. Tanpa kepercayaan, tak ada kegiatan usaha.
Perusahaan yang “sakit” biasanya adalah perusahaan yang sudah kehilangan kepercayaan para pendukungnya. Jadi, untuk memulihkan kesehatan perusahaan, langkah penting
yang harus dilakukan adalah memulihkan kepercayaan para pendukungnya, yaitu antara lain: karyawan, pemengang saham (sponsor), pelanggan, dan masyarakat umum. Beberapa
cara berikut bisa kita coba untuk memenangkan kepercayaan.
memperbaiki komunikasi internal dengan mengadakan rapat staff secara rutin dan mengupayakan sistem yang memungkinkan penyaluran informasi secara cepat dan akurat. CEO
atau Owner harus percaya bahwa komunikasi adalah cara terbaik untuk membangun kembali kepercayaan publik.

Langkah Keyakinan. Ketika Aburizal Bakrie pernah bangkrut bahkan di youtube pernah menyampaikan pernah menjadi lebih miskin dari pengemis yang videonya bisa anda
saksikan , memiliki kunci penting yaitu Keyakinan Bagaimana anda bisa meyakinkan orang lain akan potensi anda atau perusahaan anda jika anda sendiri tidak yakin akan
hal tersebut. Dalam merintis proses pemulihan, anda juga harus memiliki rencana pemulihan yang benar-benar anda yakini dapat terlaksana dengan sukses.
Banyak perusahaan perusahaan yang saat ini menduduki peringkat atas di Indonesia dan Dunia yang juga mengalami masa masa sulit di ambang kebangkrutan yang membedakan
adalah mereka punya keyakinan dan langkah strategis serta fokus dan totalitas komitmen.
Misalnya saja Coleman Mockler dari Gillette yang telah menunjukkan keyakinannya akan future value perusahaan yang dipimpinnya. Dengan keyakinan ini, Mockler berhasil
juga meyakinkan tim manajemen eksekutif untuk bersama-sama berjuang merealisasikan rencana pemulihan perusahaan dari kebangkrutan. Ia juga berhasil membangkitkan
kepercayaan ribuan investor akan strategi koreksi dan inovasi yang dijalankan perusahaan. Hasilnya, Mockler dan jajaran manajemen eksekutifnya berhasil menggagalkan
upaya pengambilalihan saham mayoritas Gillette dari orang-orang yang dianggap hanya mementingkan keuntungan pribadi, yang mungkin akan berujung pada kehancuran
perusahaan ini. Selanjutnya dengan keyakinan tinggi, Coleman Mockler yang yakin bahwa nilai perusahaan di masa depan akan meningkat, memimpin Gillette untuk tampil
sebagai perusahaan pemenang. Prestasinya yang gemilang atas upaya penyehatan perusahaan diakui dunia bisnis, dan keyakinannya yang tinggi atas nilai masa depan
perusahaan telah membawanya menjadi pebisnis ulung yang diakui dan disegani oleh kawan, lawan juga masyarakat bisnis di forum internasional.

Langkah Komunikasi
Dengan memperbaiki komunikasi eksternal semisal vendor, supplier, bankir, investor dll dan juga komunikasi internal dengan mengadakan rapat staff secara rutin dan
mengupayakan sistem yang memungkinkan penyaluran informasi secara cepat dan akurat. Khusus untuk strategi rapat harus dibuat terukur, terdata dan selalu menjadi tolok
ukur acuan langkah2 strategis dan evaluasi. komunikasi adalah cara terbaik untuk membangun kembali kepercayaan publik. Juga dengan melakukan kunjungan atau
silaturahiim bisa membuat komunikasi lebih cair dan kepercayaan tetap terjaga.

Menyusun dan menganalisa ulang Kekuatan
Upaya menghentikan pendarahan dan membangun kepercayaan tidaklah cukup. Kedua strategi ini perlu ditunjang dengan upaya penyusunan kekuatan yang bisa membawa

perusahaan untuk tinggal landas meraih kemenangan.

Membentuk Tim Inti. Jim Collins dalam bukunya Good to Great mengungkapkan bahwa untuk membawa perusahaan menjadi perusahaan pemenang, seorang CEO perlu memilih dengan
hati-hati tim inti yang akan menjadi pendukungnya. Setelah itu barulah bisa ditentukan bersama langkah strategis yang bisa diambil sebagai upaya pemulihan. Dick Cooley
dan Arnie Arbuckle dari Wells Fargo Bank di Amerika Serikat sependapat dengan Jim Collins. Yang pertama-tama mereka lakukan ketika diberi tugas untuk menyehatkan Wells
Fargo yang berada pada kondisi perusahaan dan industri perbankan yang buruk bukannya langsung menentukan apa yang harus dilakukan, melainkan terlebih dulu mengumpulkan
orang-orang terbaik untuk masuk dalam tim inti (dan memangkas orang yang tidak tepat).

Setelah itu barulah mereka bersama-sama dengan orang-orang pilihan tersebut menentukan arah yang tepat untuk memulihkan kesehatan perusahaan. Cooley dan Arbuckle yakin
bahwa perusahaan akan kuat jika didukung oleh orang-orang yang kuat karena orang-orang seperti ini sesuai dengan kualitasnya bisa lebih mudah menterjemahkan visi yang
telah ditentukan, dan umumnya telah memiliki motivasi internal untuk sukses.

Fokus pada Kekuatan Inti. Perusahaan yang sedang sekarat, jika harus juga mengurusi unit-unit bisnis yang sekarat tidak akan bertahan lama.

Untuk itu, perusahaan,

harus bisa mengidentifikasi kekuatan inti yang dapat membawa perusahaan menjadi yang terbaik dalam industri yang ditekuni. Dalam mengidentifikasikan kekuatan inti,
pemimpin bisnis juga harus bisa membaca pergerakan dan perubahan yang terjadi di pasar dan menyesuaikan pengembangan kekuatan inti dengan perubahan tersebut. Jika
kekuatan inti sudah diketahui, segala upaya dan sumberdaya bisa difokuskan untuk mengembangkan kekuatan, yang mungkin saja merupakan modifikasi ataupun perubahan
radikal dari bisnis inti yang selama ini ditekuni.

Darwin E. Smith dari Kimberly dan Clark memutuskan untuk menutup pabrik kertas yang telah 20 tahun menjadi bisnis inti perusahaan yang dipimpinnya. Setelah membaca
pergerakan pasar, Smith memutuskan untuk memfokuskan usaha pemulihan dan pengembangan pada upaya menggeser bisnis kertas yang selama ini ditekuni ke bisnis produk
konsumen yang berbasis kertas (misalnya: tissue, celana anti basah untuk bayi ). Pada saat itu Smith dihadapi pada pilihan: tetap pada bisnis pabrik kertas yang selama
ini ditekuninya, atau berkembang sesuai dengan perubahaan yang terjadi di pasar dengan masuk ke industri produk konsumen berbasis kertas dan berhadapan langsung dengan
pesaing besar yang sudah lama berada di pasar (Scott paper) maupun pesaing baru (Proctor and Gamble).

Untuk bangkit dari keterpurukan, Smith mengambil alternatif kedua, yaitu menggeser bisnis inti ke bisnis produk konsumen berbasis kertas. Untuk itu ia dan jajarannya
harus bekerja keras dan berjuang agar tidak mati tergilas persaingan (karena pilihannya adalah: mati atau menang).

Demikian juga dengan Jim Harring, nakhoda Kroeger, perusahaan yang bergerak di industri ritel.

Jika pesaing besarnya yang berjaya pada waktu itu (A & P) tetap bertahan

pada bisnis inti yang bergerak di bidang supermarket komunitas, maka Jim Harring lebih memilih untuk proaktif dalam membaca perubahaan di pasar yang mengarah pada
pendirian superstore yang diminati masyarakat karena kelengkapan produk, harga murah, dan tempat yang nyaman. Seperti juga Smith yang berhasil menang atas para pesaing
besarnya, Harring juga akhirnya berhasil mengalahkan A & P.

Mencegah adalah lebih baik dari pada mengobati. Perusahaan yang sehat, sebaiknya terus mengadakan perubahan-perubahan ke arah perbaikan dengan membaca pergerakan yang
ada di pasar sebelum perusahaan terpaksa melakukan perubahan radikal yang menyakitkan semua pihak. Namun, untuk perusahaan yang sudah terlanjut sakit, sang CEO harus
sadar bahwa perusahaan yang dipimpinnya sakit dan harus segera disehatkan kembali dengan cara menghentikan pendarahaan keuangan, membangun kepercayaan, dan menyusun
kekuatan untuk lepas landas.

Langkah menerapkan tools bisnis
Dengan mendefinisikan ulang bisnis model anda yang dilanjutkan pemetaan industri saat ini apakah perusahaan anda termasuk yang bersaing dengan berdarah darah atau
masuk di red ocean (samudra biru) jika iya , maka anda harus buang jauh jauh mahzab kompetisi untuk menang , yaitu dengan mendefinisikan strategi ulang melalui
pendekatan Blue Ocean Strategi atau Samudra Biru, dan jangan khawatir kehabisan ide atau peluang atau rejeki, karena ketika anda sungguh sungguh mencari dan meminta
pertolongan maka akan Alloh bukakan , banyak sekali jalan untuk keluar dari situasi persaingan dan meninggalkan persaingan dan ini sudah terbukti , namun jangan mudah
puas dan nyaman di comfort zone karena samudra biru atau blue ocean anda bisa menjadi samudra merah , maka anda terus dituntut menciptakan samudra biru atau blue
ocean.

Langkah terakhir dan penting
Adalah jika anda pengusaha muslim , cek ibadah anda, cek zakat, shodaqoh dan cara anda berbisnis apakah sudah sesuai aturan Alloh dan Rasulullah, jika belum maka
lakukan perubahan, SABAR, FOKUS, ISTIQOMAH DAN SMART.
Semoga bermanfaat
Wassalamu alaikum

Http://CoachSantoso.Blogspot.com
Business Growth Strategist & Debt Free Specialist

Rekomendasi bacaan dari penulis dan diolah dari berbagai sumber.
Business Mastery Tony Robbins
Jay Abraham Business Expert Strategist USA
Michael Teng , Corporate Turn Around Specialist
Prof W.Chan Kim & Prof Renee M – Blue Ocean Strategy
Prof W.Chan Kim & Prof Renee M – BLue ocean Shift – relase 21 September 2017
Verne Harnish – scaling up
Alexander osterwalder dan lain lain