Memantaskan diri menjadi pengusaha sukses

Apakah anda merasa sudah bekerja keras namun tetap tidak maksimal? atau anda sudah merasa cukup aman dengan kondisi bisnis sehingga anda lalai dan terlena serta lupa untuk terus menjadi lebih baik dan mengasah gergaji anda, mungkin artikel ini bisa menjadi inspirasi anda, dan doakan penulis artikel ini agar mendapatkan selalu keberkahan dan petunjuk.

Apakah anda tahu bahwa mantan Presiden Bill Clinton pernah membuat pernyataan dan menilai bahwa daya saing bangsa Amerika mulai tergeser oleh bangsa Jepang dan negara-negara industri baru di Asia. Salah satu cara untuk mengembalikan keunggulan bangsa Amerika menurut Presiden
Clinton adalah dengan menerapkan “The Seven Habits of Highly Effective People” (Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif) yang ditulis oleh Dr.Steven R. Covey. Kalau bangsa Amerika saja yang sudah maju mau belajar dari Steven R. Covey, pasti ada hikmahnya bila kita juga mau mempelajari 7
kebiasaan Covey. Bukankah Rasulullah Saw pernah bersabda: “Hikmah itu milik orang Islam, dimanapun kamu mendapatkannya ambillah”.

Apakah kebiasaan itu ? Kebiasaan adalah perHitemuan antara “knowledge” (pengetahuan), “skill” (keterampilan) dan “desire” (keinginan). Menghentikan kebiasaan merokok misalnya, tidak cukup dengan memiliki pengetahuan tentang terdapatnya hubungan negatif antara merokok dengan kesehatan dan mengetahui cara berhenti merokok. Kalau hanya “knowledge” dan “skill” yang diperlukan, tentu tidak ada lagi dokter yang merokok.

Mengubahkebiasaan mensyaratkan ketiganya. Percaya atau tidak, faktor yang ketiga yaitu keinginan, sangat dipengaruhi oleh makna yang kita asosiasikan pada kebiasaan tersebut. Perokok misalnya mengasosiasikan merokok dengan kenikmatan, sedangkan bukan perokok mengasosiasikan merokok dengan penderitaan. Berikut ini adalah 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif

Kebiasaan Pertama, Proaktif.
Proaktif bukan sekedar berinisiatif. Proaktif berarti suatu keyakinan bahwa apa pun yang kita peroleh dalam hidup merupakan akibat pilihan respons kita sendiri. Kebiasaan pertama merupakan kesadaran bahwa antara stimulus dan respons terdapat “freedom to choose”. Allah berfirman dalam Surat Ar-Rad
13:11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Kebanyakan orang berpikir bahwa ketidakbahagiaan mereka disebabkan karena apa yang terjadi pada diri mereka. Padahal yang benar adalah karena cara mereka memberi makna atas apa yang terjadi.

Selalu ada pilihan untuk bereaksi secara positif terhadap situasi yang bagaimanapun negatifnya. Kemampuan untuk memilih respons seperti yang dikemukakan di atas, merupakan fungsi dari kemampuan kita memanfaatkan karunia Allah berupa Furqon (berupa Al Qur’an yang membedakan antara respons yang haq dan yang batil), “independent will” (kehendakmerdeka), “self awareness” (kesadaran diri), conscience (kata hati) dan”imagination” (imajinasi). Dengan kata lain, kebiasaan proaktif menyatakan
bahwa kitalah pemrogram kehidupan kita sendiri.

Kebiasaan Kedua, Mulai Dengan Akhir Dalam Pikiran.

Kebiasaan kedua adalah kebiasaan memiliki visi, misi dan tujuan. Kebiasaan ini menunjukkan arah dan cara menjalani hidup serta menentukan hal-hal yang penting dalam hidup. Islam mengajarkan pentingnya goal setting ketika Rasulullah Saw menyatakan setiap perbuatan tergantung niatnya. Kebiasaan
mulai dengan akhir dalam pikiran mengajarkan agar kita menuliskan programnya.

Kebiasaan Ketiga. Dahulukan Yang Harus Didahulukan.

Mendahulukan yang utama merupakan kebiasaan yang menuntut integritas, disiplin dan komitmen. Kebiasaan ketiga merupakan perwujudan dari kemerdekaan memilih hanya melakukan hal-hal penting yang telah ditentukan pada kebiasaan kedua. Allah Swt berfirman dalam Surat Al Mu’minun 23:1-3
“Sungguh berhasil orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan dan percakapan yang sia-sia”, dan dalam surat Al-‘Ashr 103:1-3 “Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran”.

Kebiasaan ketiga menekankan pentingnya memanfaatkan waktu. Juga dalam Surat Al Insyirah 94:7-8 “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh-sungguh dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”. Seringkali ditemukan pengusaha atau karyawan yang ingin sukses tapi banyak menggunakan waktu untuk hal hal yang tidak produktif, istilahnya ingin menjadi juara lomba namun actionnya tidak kesana tidak memantaskan diri.

Kebiasaan Keempat, Berpikir win-win.

Berpikir menang-menang berasal dari karakter yang dicirikan dengan kejujuran (menyesuaikan kata dengan perbuatan), integritas (menyesuaikan perbuatan dengan kata), kematangan (keseimbangan antara ketegasan dan toleransi), dan mentalitas kelimpahan (keyakinan bahwa karunia Allahtersedia tanpa batas bagi siapapun yang mengikuti sunnatullah atau “causality law”).

Kebiasan Kelima, Berusaha Mengerti Lebih Dulu – Baru (minta) Dimengerti.Kebiasaan kelima menunjukkan bahwa “the secret of living is giving”(rahasia kehidupan adalah memberi). Rasulullah Saw bersabda bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan yang di bawah. Petani yang berhasil mengetahui rahasia hidup tersebut, sehingga ketika ia bersawah ia tidak meminta sawah agar memberinya panenan, tetapi ia terus memberi dengan menyemaikan benih, menanam, menyirami, memupuk, menjaga tanaman padi dari
serangan hama dan penyakit sampai tiba saat memanen.

Dengan terus memberi,petani mendapat balasan yang berlipat ganda, dari satu butir berkembang menjadi tujuh tangkai dan masing-masing tangkai menghasilkan seratus butir, berarti 700 kali lipat. Allah berfirman dalam Surat Al Zalzalah 99:7-8 “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya dan barangsiapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, dia akan melihat balasannya” dan dalam Surat Ar-Rahman 55:60-61 “Tiadalah balasan kebaikan, melainkan kebaikan pula, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”. Juga dalam Surat Al Baqarah 2:261 “Perumpamaan orang yang memberi di jalan Allah, adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai itu berisi seratus biji, dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Kebiasaan Keenam, Wujudkan Sinergi.

Bersinergi berarti keseluruhan lebih bernilai daripada jumlah bagian-bagiannya. Mengenai pentingnya bersinergi, Khalifah Umar bin Khattab pernah berujar bahwa kejahatan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Yang harus diingat adalah agar dapat bersinergi
setiap anggota memiliki lima kebiasaan di atas yaitu proaktif, mulai dengan akhir dalam pikiran, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang dan berusaha mengerti lebih dulu baru dimengerti. Allah Swt mengingatkan agar kita hanya bersinergi dalam melakukan kebaikan bukan dalam berbuat dosa dan
permusuhan (Al Maidah 5:2).

Kebiasaan Ketujuh, Mengasah Gergaji.

Rasulullah mengajarkan agar kita terus mengasah gergaji fisik, mental, sosial / emosional, dan spiritual kita ketika beliau bersabda: “Orang Islam adalah orang yang begitu sibuk memperbaiki diri, sehingga tidak memiliki waktu tersisa untuk mencari-cari aib orang lain. Orang Islam adalah orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin dan hari esoknya lebih baik dari hari ini. Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah amal yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.”

Orang Jepang sangat menekankan pentingnya melakukan perbaikan diri secara terus menerus (Kaizen). Dalam buku “Strategic Management”, Dess dan Miller mengemukakan tiga metode Kaizen.

Pertama, Experimentation.
Filosofi experimentation adalah “if you fail at the first time, try, try, …and try again” “I will persist until I succeed”. Ada empat langkah experimentation:
1. Know what you want (SMART = Specific, Measurable, Achievable,Reasonable, and Time-limit).
2. Action (if you don’t do anything you will be a dreamer or a member of NATO, no action talk only).
3. Observe whether your action leads you to what you want or not.
4. If not, change your approach. Repeat the process over again until you get what you want.

Contoh paling bagus untuk experimentation adalah keberhasilan Thomas Alpha Edison setelah melakukan 10 ribu kali percobaan untuk menemukan bola lampu, dan Kolonel Sanders yang telah ditolak sebanyak 1009 kali sebelum memulai bisnis Kentucky Fried Chicken-nya. Allah Swt berfirman dalam Surat Al
Baqarah 2:153 “Hai orang-orang yang beriman, mintalah kepada Allah dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Orang yang sabar adalah orang yang tabah melakukan experimentation untuk terus meningkatkan kualitas iman, hidup, pikir, kerja dan karyanya (5k).

Mana yang lebih sabar (cerdas), tukang bakso yang sejak umur 17 tahun mulai mendorong gerobak bakso dan masih mendorong gerobak bakso yang sama setelah mencapai usia 40 tahun, atau tukang bakso yang ketika usia 17 tahun mendorong gerobak bakso, setelah berusia 40 tahun memiliki waralaba bakso yang tersebar di berbagai kota?

Kedua, Benchmarking.
Daripada melakukan “trial and error” melalui experimentation, ada cara lain yang lebih mempercepat perjalanan menuju tempat yang kita inginkan yaitu dengan “benchmarking”. Benchmarking disebut juga “role modelling” atau “reverse engineering”. Empat langkah benchmarking:
1. Know what you want (SMART = Specific, Measurable, Achievable,Reasonable, and Time-limit).
2. Find a model (someone, organization, or firm) that has got what you want.
3. Observe what the model does.
4. Do the same thing as the model does or do it even better until you get what you want.

Bangsa Jepang dikenal sebagai the greatest benchmarker in the world. Hampir semua penemuan yang berguna bagi ummat manusia yang dilakukan melalui metode experimentation oleh bangsa Amerika atau Eropa seperti mobil, komputer, telepon, dan televisi telah di-benchmarking oleh bangsa Jepang sehingga bangsa Amerika dan Eropa sendiri merasa terkaget-kaget melihat merk Jepang seperti Honda, Toyota, Mitsubishi, Sony dan Hitachi membanjiri pasar mereka. Singapore, Korea dan Taiwan mengikuti jejak yang telah dilakukan Jepang.

Bapak Fadel Muhammad dengan Bukaka Tekniknya memiliki ruang yang disebutnya “Sontek Room” untuk menyontek penyontek sehingga garbarata buatan Bukaka Teknik mulai digunakan di bandara negara yang diconteknya. Allah menyuruh kita menerapkan benchmarking dalam Surat Al Ahzab 33:21 “Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan (role model) yang baik bagimu, bagi orang orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah”. Rasulullah sendiri, seperti dikemukakan di atas,menyuruh agar kita mengambil hikmah dari siapapun dan dari manapun, karena hikmah itu milik orang Islam.

Ketiga, Outsourcing.
Metode Kaizen yang ketiga merupakan suatu kesadaran bahwa betapa pun hebatnya seseorang tidak akan unggul dalam semua aspek kehidupan. Begitupun suatu organisasi atau perusahaan tidak mungkin unggul dalam semua hal. Oleh karena itu kadang-kadang diperlukan melakukan “oursourcing” yaitu mengambil
“source from outside” atau meminta bantuan pihak lain atau men-subkontrak-kan hal-hal yang dapat dilakukan oleh pihak lain sepanjang memenuhi tiga kriteria berikut: kualitasnya tinggi (high quality), harganya murah (low price), dan pengirimannya tepat waktu (just-in-time delivery). Allah Swt menyuruh kita melakukan “outsourcing” ketika berfirman dalam Surat An Nahl 16:43 “Bertanyalah kamu kepada mereka yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui”.

Alangkah indahnya ajaran Islam. Wajar jika Allah Swt dalam Surat Ar-Rahman berulang-ulang mengajukan pertanyaan: “Dan nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?” Dan dalam Surat Ibrahim 14:7 “Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azab-Ku amat keras.” : “Ajarilah kami ya Allah, mengenali karunia-Mu, begitu banyak yang Kau beri, begitu sedikit yang kami sadari dan syukuri. Ajarilah kami Ya Allah, berterima kasih kepada-Mu, agar aku dapat selalu, mensyukuri nikmat-Mu”.

Daftar Pustaka
1. Stephen R. Covey :
1990, 7 Habits of Highly Effective People
1992, Principle-Centered Leadership
1994, Daily Reflections for Highly Effective People: Living the 7
Habits of Highly Effective People Every day
2. John Naisbit, 1982, Megatrends: Ten New Directions Transforming Our
Lives.
3. Al Qur’an dan Hadits Rasulullah.
4. Berbagai sumber